Wedangan Patimura 2

Berpikir Cerdas & Membuka Wawasan

Juli 2008: ”Kaum Muda semangat dalam Tantangan, Bisa!”

Paroki Sragen (LENTERA) – Wedangan Patimura 2 edisi Juli kali ini, Minggu (3/7) dikemas dalam bentuk yang berbeda dari biasanya. Sesuai temanya yang bernuansa kaum muda, mereka hadir memeriahkan acara tersebut. Wedangan kali ini diramaikan dengan penampilan band DEKIL (Mudika Teguhan) dan kelompk keroncong Blero, semuanya adalah kaum muda Paroki Sragen. Dua kelompok beda aliran tersebut serasa penuh keceriaan mengiringi alunan tembang yang dilantunkan oleh penyanyi lokal gereja.

Wedangan edisi Juli ini menghadirkan narasumber Bp. P. Joko Mulyono dan Ibu Tesalonika Anik Parwati dengan mengangkat tema “Kaum Muda Semangat dalam Tantangan, Bisa!“. Sasaran utama acara ini adalah kaum muda, di mana mereka merupakan tulang punggung gereja dan calon pembawa tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Kegiatan positif ini perlu dukungan dan berbagi pihak. Mengapa tidak? Kaum muda perlu diantar untuk menatap masa depan yang penuh harapan. Sementara ada anggapan bahwa band kaum muda ini hanya sekedar hura-hura. Namun hal tersebut ditangkis oleh salah satu anggota Mudika, Uli Sarono. Gadis imut dari Plumbungan lndah ini menolak dengan bahasa yang arif. Kaum muda perlu berekspresi, salah satunya melalui grup band atau menyanyi untuk menyalurkan bakat seninya.” tuturnya diplomatis.

Narasumber pertama, IbuTesalonika Anik Parwati, di depan seratusan audiens yang hadir menyampaikan kesaksiannya sebagai pekerja seni. Anik, begitu nama itu sering disebut, mengaku bahwa sebenamya bakat seni tarik suaranya itu mulai mengusik hatinya sejak masih kecil. Namun sayang kedua orang tua yang mengasuhnya kurang merespon tentang apa yang bergejolak di dalam benaknya. “Ayah ibuku kurang setuju jika aku masuk menjadi anggota komunitas band. Namun apa boleh dikata dorongan dari dalam diriku semakin kuat untuk meluluhkan kehendak orang tuaku yang berseberangan tadi,” tuturnya seraya mengumbar senyum gembira penuh kemenangan.

Bakat seni tarik suaranya digenggamnya erat-erat. Tanah kelahirannya Purwokerto ia tinggalkan dengan tujuan mencari lahan untuk mengembangkan bakatnya. Tibalah di bumi Sukowati. dan … ternyata Sang Arjuna telah menghadang. Pemuda tampan itu pekerja seni pula, namun beda aliran yaitu desain grafis, Pius namanya. Gayung pun bersambut, kemudian dipersatukan melalui janji perkawinan di depan Allah. Kini ibu tiga anak yang tinggal di lingkungan Petrus Margoasri ini merasa terpanggil mengais rejeki melalui dunia tarik suara.

Sementara narasumber kedua Bp. P. Joko Mulyono, bapak dua anak dari Perum Candi Asri ini menyampaikan kesaksiannya tentang dirinya yang terpanggil di dunia seni olah tubuh. Ia dilahirkan di Purworejo. Setelah menuntaskan belajarnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ia hijrah ke kota metropolitan Jakarta dengan kepentingan mengembangkan bakat sesuai gelar S.Seni yang disandangnya.

Kini Paulus. panggilan akrabnya, mengasuh Seni Tari di Sanggar Seni Sukowati di Auditorium Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Sragen. Bersama isterinya, Yanti yang juga berprofesi sebagai penari, Paulus mengaku bangga dengan talenta yang dimilikinya sekarang. Keahlian memainkan keindahan kelenturan tubuhnya ini bukan tanpa sebab. Proses demi proses ia geluti dengan tekun di sebuah lembaga perguruan tinggi seni di Surakarta.
Dengan mengembangkan bakat seninya melalui dunia tari, ia mendapatkan banyak pengalaman yang hebat. Di auditorium ia menjembatani gelar apresiasi seni tari dari Korea Shen Hea Ha beberapa waktu lalu, wwayangan setiap Senin Paing, keroncong, dsb.

Paulus sangat menghargai kiprah kawula muda kalangan gereja paroki Sragen. Harapannya, siapa pun yang merasa dirinya mempunyai bakat dan minat agar bisa menentukan pilihannya sendiri. Apabila memilih dan menentukan disiplin ilmu di STSI Surakarta Paulus ada berbagai cabang seni yang ada, seperti : Seni kerawitan, Pedalangan, Tari, Pertunjukan, Rupa, Desain Grafis, Etnologi, dsb. Di semua jurusan ini tinggal memilih. Ada program diploma dan strata satu. Bagi mahasiswa berbakat bisa mendapatkan beasiswa, bahkan mendapat honorarium dan hasil pentas lokal, nasional maupun internasional.

Pada bagian penutup kesaksiannya Paulus mengarahkan anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) hingga remaja agar mereka yang ingin mengembangkan bakat seni tarinya bisa berlatih di sanggarnya tanpa dipungut beaya. Pada akhir pembelajaran anak akan dievaluasi (diuji) sampai sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi pelajaran yang telah diberikan. (Andre AS)

Juli 13, 2008 - Ditulis oleh wedanganpatimura2 | Uncategorized | | & Komentar

& Komentar »

  1. Berkah Dalem….
    Wedangan Patimura Dua, memang sangat bermanfaat bagi kita. Banyak informasi yang bisa kita aplikasikan untuk kehidupan sehari2. Suasana yang santai, penuh kekeluargaan, guyub dan damai sangat mendominasi perbincangan diwedangan….Paroki Sragen memang sangat inovatif dan kreatif. Selamat buat wedangan patimura dua. Salam buat crew wedangan yang keren2.

    Komentar oleh tiburtiuspututherunugroho | Juli 20, 2008 | Balas

  2. Yah…Dan, isih repot ki.
    ya nanti sambil jalan temen2 tak intertain-e biar ikut berperan aktif dalam Wdangan Patimura 2.
    Semoga sarana ini jadi wadah untuk Transfer of Knowledge yang baik dan efektif.
    Trus…kalo bisa ditambah juga menunya dengan Info Jejaring Peluang Kerja dan Usaha.

    Berkah Dalem….!!

    Komentar oleh adityasetyawan | Agustus 26, 2008 | Balas


Tinggalkan komentar