September 2008 : Kitab Suci sebagai Sumber Inspirasi Hidup Harian
Paroki (LENTERA) – Wedangan Patimura 2 edisi September 2008 ini terasa lebih bermakna. Berkaitan dengan Bulan Kitab Suci Nasional maka tema yang diangkat pun juga seputar Kitab Suci, karena sekaligus sebagai penutupan Bulan Kitab Suci Nasional. Wedangan kali ini menghadirkan narasumber: Romo Gabriel Alimo Notobudyo, Pr (Mantan moderator pembaharuan Doa Karismatik Katolik Nasional dan pemrakarsa serta pengajar Sekolah Penginjilan Keuskupan Agung Semarang, Jakarta dan Surabaya) . Acara ini dilaksanakan Minggu (28/8) ini dimulai sekitar pukul 16.30 WIB bertempat di aula SMP Saverius Sragen yang baru selesai dibangun yang terletak tepat di depan Gereja Paroki Sragen. Acara dihadiri ratusan umat yang terdiri dari para Ketua lingkungan, Ketua Wilayah, para prodiakon, kaum muda, para legioner dan juga umat di Paroki Sragen.
Sebelumnya Romo Paroki Sragen, Romo Issri memperkenalkan Romo Notobudyo dan aktifitasnya kepada peserta yang hadir, serta alasan Romo Noto diundang menjadi narasumber karena berkaitan dengan tema yang diangkat yakni seputar Kitab Suci. Romo Issri mengingatkan semakin pentingnya Kitab Suci bagi kita dan diharapkan kita juga bisa mewartakan kabar gembira kepada siapa saja yang kita jumpai. Apa yang disampaikan oleh Romo Noto diharapkan bisa menggugah semangat umat Katolik untuk mewartakan Injil.
Romo Noto membuka pembicaraan dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang diutus untuk mewartakan Injil. Satu-satunya perintah Tuhan Yesus adalah segala kuasa kuberikan kepadamu, pergilah dan ajarlah semua bangsa dan dibaptis dalam nama Bapa. Ini menjadi dekrit dan tugas kita untuk melaksanakannya.
Gereja lahir dari pewartaan Injil (Pentakosta). Paulus sebagai Rasul pewarta Injil pun mengatakan lebih baik mati daripada tidak mewartakan Injil. Sejak Gereja perdana ± 40 tahun perkembangan murid Kristus setelah 12 rasul menjadi 120 orang, setelah Yesus wafat dan dipenuhi Roh Kudus jumlah murid Yesus semakin meluas dan menjadi mayoritas di seluruh dunia.
Namun selama 30 tahun terakhir ini jumlah umat Kristiani semakin berkurang, karena minimnya umat Kristiani menjalankan perintah Yesus sebagai Penginjil. Umat Kristiani yang mewartakan Injil tidak sampai 50 %, khusus dari Katolik hanya 1 % yang melaksanakannya. Maka pada kesempatan ini, beliau mengajak kepada setiap umat untuk terpanggil untuk mewartakan Injil. Minimal satu orang bisa mengajak lima orang, maka tentunya akan Kerajaan Allah semakin luas.
Konsili Vatikan II tepatnya tanggal 21 Nopember 1964 Gereja mengeluarkan Konsititusi dogmatis tentang Lumen Gentium. Hakekat Gereja sebagai terang bangsa-bangsa , mewartakan Injil kepada segala makhluk. Ingin menerangi semua orang dengan cahaya Kristus bagi yang mewartakan Injil. Hal ini merupakan hakekat dan perutusan bagi semua umat Katolik. Keadaan jaman lebih mendesak, setiap orang Katolik harus mewartakan Injil. Pada penutupan Konsili Vatikan hal ini dipertegas bahwa identitas gereja adalah mewartakan Injil. Namun 10 tahun kemudian (1974 ) Paus mengumpulkan setiap negara (pertemuan para uskup (Amerika, Asia, Afrika, Eropa) menanyakan tentang pewartaan Injil dan hampir semua mengatakan belum melaksanakannya 100 %.
Ditegaskan kembali bahwa perutusan no. 1 adalah Injil harus diwartakan di seluruh dunia dengan cara yang baru langkah demi langkah. Pada tahun 1981 Gereja mengeluarkan Dokumen Evangelisti yang merupakan dukungan terbesar dari Gereja Katolik di abad 20 dalam pewartaan Injil. Namun yang memanfaatkan ini justru kebanyakan dari Gereja Protestan.
Pada 7 Desember 1980 Paus mengeluarkan Ensiklik tentang perutusan Juru Selamat.
25 tahun sesudah Konsili Vatikan II, Paus mengajak gereja untuk memperbahatui keterlibatannya dengan menghidupkan kembali identitas Kristiani.
Pada sesion berikutnya diadakan sharing tanya jawab seputar Kitab Suci. Banyak sekali pertanyaan dan respon umat, mulai dari bagaimana cara terbaru dalam mewartakan Injil, apakah ada buku pegangan dalam mewartakan Injil, mengapa Bulan Kitab Suci Nasional tidak mewartakan tentang Yesus (Perjanjian Baru) malah mengambil tema dari Perjanjian lama hingga pertanyaan tentang Kursus Evangelisasi yang diadakan Romo Noto di Gereja Purwosari Surakarta dengan 30 kali pertemuan.
Acara wedangan ini makin terasa semarak karena disela-sela sesion diisi hiburan musik tradisional ”Gadhon” oleh kelompok Sekar Sejati pimpinan Bp. Tarno. Peserta juga menikmati sajian khas wedangan hingga merasa nyaman dalam mengikuti acara ini. Sekitar pukul 20.00 WIB acara wedangan ditutup dengan berkat penutup oleh Romo FX. Suhanto, Pr. (dn)
Belum ada komentar.


























